Bibliografi Kecemburuan
Keywords:
Ikhwanul Arif, Puisi, Bibliografi KecemburuanSynopsis
Bibliografi Kecemburuan merupakan debut Penerbit Mantagi dalam menerbitkan buku sastra sekaligus penanda bahwa puisi masih terus ditulis dan diapresiasi. Penerbitan ini lahir melalui kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap seni puisi, antara lain Yayasan Rantau Karya Batuah, Penerbit JBS, Steva, dan sejumlah apresiator sastra lainnya.
Naskah kumpulan puisi Ikhwanul Arif memiliki perjalanan yang unik. Sebagian puisinya pernah direncanakan terbit pada 1994, tetapi penerbitannya dibatalkan oleh penyair sendiri. Setelah itu, ia tidak lagi menerbitkan puisi secara formal dan lebih memilih menyebarkannya melalui pesan singkat maupun media sosial.
Sikap tersebut berkaitan dengan pandangannya terhadap posisi penyair dan puisi. Bagi Ikhwanul Arif, penyair tidak lebih penting daripada petani atau buruh. Ia menolak pengagungan berlebihan terhadap puisi maupun anggapan bahwa puisi secara otomatis memiliki kedudukan luhur dalam memanusiakan manusia. Baginya, puisi dapat berada dalam keseharian yang paling sederhana, bahkan berdampingan dengan hal-hal yang dianggap remeh dan kotor.
Meski demikian, ia tetap memandang puisi sebagai cara lain untuk menikmati dan menggambarkan dinamika kehidupan. Menjadi penyair seharusnya bukan tujuan yang dikejar, melainkan sebutan yang lahir dari proses dan karya. Bibliografi Kecemburuan hadir sebagai ruang untuk menikmati pandangan dan pergulatan tersebut.
References